
JAKARTA – Industri manufaktur panel surya, SEG Solar Inc. menjadi investor pertama dari Amerika Serikat yang melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah. Dengan peletakan batu pertama tersebut, perusahaan SEG Solar Inc secara resmi memulai investasi hilirisasi pasir silika.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementrian Investasi/BKPM Nurul Ichwan mengatakan bahwa proyek industri panel surya ini akan menjadi pabrik panel surya terintegrasi milik SEG Solar yang terbesar di Asia Tenggara.
Menurutnya, rencana investasi dari proyek tersebut sebesar US$500 juta atau setara Rp8 triliun. Pabrik ini juga diperkirakan akan menyerap hingga 2.000 tenaga kerja dalam waktu 5 tahun mendatang, dengan total kebutuhan lahan seluas 40 hektare.
“Pembangunan pabrik panel surya ditargetkan selesai pada 2025. Total kapasitas produksi sebesar 5 gigawatt (gw), yang akan diekspor terutama ke Amerika Serikat, dan juga untuk pasar dalam negeri,” ungkap Nurul dalam siaran pers, dikutip Rabu (2/10/2024).
Nurul juga menilai akan pentingnya meningkatkan realisasi investasi, khususnya pada ekosistem industri panel surya ke depannya. Hal itu bertujuan mendukung pencapaian target bauran energi terbarukan sebesar 42% pada 2030.
Ia pun menyebutkan capaian bauran energi terbarukan hingga saat ini yang baru mencapai sekitar 14%. Oleh karena itu, pihaknya mendorong investasi hilirisasi pasir silika oleh PT SEG Solar Manufaktur Indonesia.
Selain meningkatkan nilai tambah, menurutnya hilirisasi juga penting agar Indonesia masuk menjadi bagian rantai pasok global.
“Serta untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) dan bauran energi terbarukan melalui penguatan ekosistem industri panel surya,” imbuh Nurul.
Perlu diketahui, Pelaksanaan groundbreaking ini merupakan tindak lanjut penandatanganan perjanjian pra-kerja sama antara SEG Solar Inc., PT ATW Solar Manufaktur Indonesia dan KITB pada 23 Juni 2023 di Washington DC, yang turut disaksikan Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, yang pada saat itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.*



